Mengingat Masyarakat Kampung Jawa Tondano lahir dari rombongan Kyai Mojo dan Wanita asli Minahasa, maka dapat dikatakan disini bahwa masyarakat Kampung Jawa Tondano saat ini sudah menjadi "Etnis masyarakat Minahasa".
Orang orang Kampung Jawa Tondano selama ini tidak berpikir kalau mereka bukan orang Minahasa.
XI. KAMPUNG JAWA TONDANO
MENJADI TEMPAT PENGASINGAN
Dalam perkembangan selanjutnya Kampung Jawa oleh Belanda menjadi tempat "pengasingan" para Ulama terkenal yang banyak pengaruhnya dalam pembrontakan melawan Belanda. Ulama ulama itu antara lain:
1. Dari Aceh. - Tengku Muhamad , panglima tentara Aceh ( 1895 ).
2. Dari Padang. - Tuanku Imam Bonjol ( 1840 ), Panglima Perang Padri.
3. Dari Palembang. - Sayyid Abdullah bin Umar Assagaf ( 1880 ) , orang keturunan Arab bersama istrinya keturunan Eropah, Nelly Meiyer.
Gubernur Gorontalo saat ini, Fadel Mohamad adalah salah satu kerabatnya.
- Tjotrodininggrat ( 1844 ) juga dari Palembang, adalah saudara laki laki dari Sultan Najamuddin Palembang, dimana anak laki lakinya Pangeran Nguren kawin dengan
"Gadis remboken fam Riet Tombeng".
4. Dari Banten. - Haji Abdulkarim, Haji Muh. Asnawi, Haji Jaffar, Haji Mardjaya(1911)
5. Dari Surakarta (Solo). - Pangeran Ronggo Danupoyo (1905) anaknya dari Sunan Pakubuwono IV - Surakarta / Solo
6. Dari Kalimantan. - Gusti Perbatasari ( 1926 ), putra Sultan dari Banjarmasin Kalimantan.
7. Dari Maluku. - Haji Saparua ( 1900 ) dari Maluku.
Selang beberapa masa yang agak panjang Kampung Jawa di Tondano merupakan salah satu pusat pengkajian ilmu agama Islam terutama penduduk disekeliling Minahasa dan Sulawesi Tengah datang untuk pangkajian agama Islam kepada alim ulama di kampung Jawa Tondano.
Pengkajian ilmu agama tersebut lebih meningkat lagi apabila di Tondano itu oleh Belanda dibuka Sekolah Raja ( Hoofden School ), dimana anak anak raja diseluruh Sulawesi Utara masuk kesekolah tersebut.
Perlu dicatat disini bahwa ada beberapa warga Kampung Jawa berhasil masuk kesekolah Belanda yang hanya diperuntukkan bagi Inlander namanya MULO, sehingga dapat berbicara bahasa Belanda.
Selanjutnya tentang perkembangan Islam di Minahasa, terlebih dahulu hendaknya diketahui, bahwa hingga kedatangan Kyai Maja di Minahasa merupakan daerah tertutup bagi dunia Islam.
Dalam logat bahasa Minahasa tiada terdapat sepatah katapun juga yang berasal dari bahasa bahasa Arab, Gujarat atau sangsekerta.
Hal ini disebabkan karena penduduk Minahasa umumnya hidup dipedalaman dan bukan dipesisir sehingga tidak ada kontak dengan dunia luar terutama Islam pada eranya kesultanan Ternate.
Kembali pada penguasaan Belanda terhadap Minahasa tahun 1830, maka Pemerintah Hindia Belanda "baru" mendatangkan pekabar "pekabar Injil" langsung dari Belanda dan tiba di Tondano pada "tahun 1831" yaitu J.F.Richdel dan J.G.Schwarz.
Jadi berdasarkan data ini maka yang "lebih dulu" menapakkan kakinya di Tondano Minahasa adalah "Islam" yaitu Kyai Mojo dan rombongannya.
"Bedanya" disini adalah Kyai Mojo tiba di Tondano "bukan untuk menyiarkan Islam kepada masyarakat Minahasa", "melainkan hanya semata mata untuk mempertahankan hidup dan tetap dengan keyakinannya yaitu Islam", sedangkan Belanda datang disamping "menguasai Minahasa" juga untuk memberikan "pekabaran Injil bagi Masyarakat Minahasa" dengan "segala fasilitas penunjangnya".
Lepas dari agama Kristen, suku bangsa Minahasa mempunyai kepercayaan tersendiri yang asli Minahasa yaitu menurut E.V. Adam didalam bukunya "Kesusastraan Kebudayaan dan Cerita Cerita Peninggalan Minahasa" menulis:
Bahwa segala kepala kepala agama zaman purba Minahasa ( Alifuru ), apabila mereka hadir dalam upacara foso (korban) yaitu upacara untuk mempersembahkan sesuatu kepada Yang Maha Tinggi, maka mereka memuji dan memuja untuk menyempurnakan ketaatan mereka sambil kepala kepala agama itu melalukan corak dan bentuk persembahannya menurut ajaran dari Ilah yang pertama dan paling Tua.
Adapun Ilah yang pertama dan paling Tua dan paling bijaksana itu adalah "KAREMA" ( Kadema ).
Menurut cerita bahwa Karema itu masuk dunia ini ia tiada dilahirkan, ia masuk dunia dengan kuasa gaib dan ajaib dengan pribadi sempurna, keluar dari pecahan batu.
Selaku Ilah ia menjadi kepala agama dan mengatur adat istiadat sambil memberikan pelajaran pelajaran.
Mula mula kepada Lumimu'ut dan To'ar.
Perkataan perkataan dan kalimat kalimat memuja dan memuji itu sekaliannya mempertinggi, mempermulia, menghormati dan menjunjung Yang Maha Tinggi. Kalimat kalimat itu menanamkan dengan penjelasan paling tepat bahwa adalah satu Ilah yang paling berkuasa yang "bergelar":
OPO' WAILAN WANGKO, OPOMANEMBO NEMBO, OPO RENGA RENGAN, minema tana' wo langit
( Ilah yang kaya raya dan maha besar, Ilah yang melihat keseluruhan Dunia, Ilah yang lahir dan seumur dengan Dunia,
yang sudah ciptakan Bumi dan Langit ).
Pertanyaan sejak kapan kepercayaan suku Minahasa ini berawal.
Perhitungan dimulai berdasarkan tahun kalender suku Minahasa.
Perhitungannya dimulai pada zaman Pembagian atau zaman PINAWETENGAN UN NUWU bertempat disuatu dataran tinggi dikaki gunung Toundurutan yang sekarang disebut Touderukan.
Untuk mengembalikan kenang kenangan zaman PINAWETENGAN UN NUWU itulah maka didirikan sebuah batu peringatan: "WATU PINAWTENGAN" ( batu tempat pembagian ) yang terletak di negeri Pinabetengan sekarang.
Alasan perhitungannya adalah sebagai berikut:
Tiap 3 garden (derajad) = 100 tahun.
Dalam tahun 1931, maka dalam simpanan beberapa keluarga di Minahasa masih ada silsilah dengan perhitungan 24 derajad.
24 derajad = 8 x 3 derajad = 100 tahun.
8 x 100 tahun + 100 tahun = 900 tahun.
Tahun 1931 dikurangi 900 tahun = 1031 tahun, itulah dimulainya ZAMAN KAREMA, LUMIMU'UT dan TO'AR.
Menurut "riwayat", maka "orang MINAHASA pertama" ialah Lumimu'ut seorang wanita.
Lumimu'ut seorang manusia "legendaris", diam ditempat yamg bernama Tu'ur in tana' ( tanah leluhur ).
Ditempat ini secara legendaris pula diceritakan kelahiran anaknya laki laki "TO'AR".
Setelah ia dewasa atas sesuatu anjuran, ibu dan anak mengelilingi dunia untuk mencari jodoh masing masing.
Setelah mereka bertemu disuatu tempat mereka mempersamakan tongkat yang ada pada masing masing ( tongkat tongkat itu terdiri dari batang goloba (Tuis) dan ternyata bahwa tongkat tongkat itu tidak sama panjang lagi, maka ini berarti bahwa mereka bukan ibu dan anak, tetapi asing satu sama lain.
Kemudian mereka menjadi suami istri. Turunan mereka ada banyak sekali yang sekarang ini adalah suku Minahasa.
Oleh karena itu maka "tanah Minahasa" disebut juga "TANAH TO'AR DAN LUMIMU'UT".
XII. INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT MINAHASA
Masyarakat Kampung Jawa Tondano sudah merupakan "satu kesatuan" dengan masyarakat Minahasa.
Coba "disimak" apa kata para kepala Walak Tonsea, OPO RUNTUPALIT RUMBAYAN (OPO' SOKOMEN) dengan Kepala Walak Tondano, OPO' TOMBOKAN dalam dialog berikut ini.
Opo' Sokomen : Inikah mereka mereka itu orang Jawa yang digambarkan oleh Belanda kepada kita
sebagai orang buangan, karena suka melawan dan berontak?
Opo' Tombokan : Ya, mereka berontak kepada Belanda tetapi "tidak" terhadap kita.
Lihat saja adat mereka mereka adalah baik baik.
Yang muda muda itu sangat hormat dan turut semua nasihat orang tua tua.
Kita tidak boleh terlalu percaya kepada Belanda, siapa tahu dia mau kasih berkelahi kitaorang dengan orang orang Jawa tadi.
Opo' Sokomen : Siapa pula lagi yang suka berkelahi dengan orang orang yang selalu bersebahyang itu dan
sesudah itu segeralah mereka kepekerjaan masing masing.
Sesungguhnya kita harus mengikuti contoh contoh yang mereka sudah lakukan,
terutama tentang bercocok tanam.
Opo' Tombokan : Saya merasa sangat tertarik kepada orang orang muda Jawa itu yang punya mata tajam
semacam mata burung alap alap, sambil menunjuk kepada Ghazali Mojo, anaknya Kyai Mojo.
Opo' Sokomen : Tetapi itu pemuda Tumenggung Sis yang punya urat kawat tulang besi itu dalam segala hal sangat mengagumkan. Dia sedikit bicara banyak bekerja.
Akhirnya dikemudian hari Kyai Ghazali Mojo menjadi "anak mantu Opo Tombokan" dan Tumenggung Sis Pajang menjadi "anak mantu dari Opo Sokomen Rumbayan".
Adapun pandangan dari pada dialog diatas tidak mungkin keliru, karena seseorang yang menjabat Kepala Walak sekaligus, ia adalah Pengatua Adat yang disegani dan dihormati.
Adat Minahasa adalah :
"I PA TU TUA PELE PELENG, I PATU TUA NI BAYA WAYA"
Orang tua dihormati oleh yang muda muda dan menuruti nasihat nasihat.
Ini adalah tanda tanda "budi pekerti yang tinggi".
Selanjutnya oleh karena persahabatan Kyai Mojo dengan Kepala Walak Tonsea dan Tondano semakin erat, disuatu saat dia menyampaikan lamaran kepada Opo Sokomen untuk melamar putri bungsunya yang bernama Wurenga, umur 17 tahun bagi senopatinya Tumenggung Zees Pajang "secara Islam" yang umurnya 20 tahun, dan peminangan akan dilakukan oleh tuan Residen dari Manado.
Walaupun Opo Sokomen yag fanatik keras dengan adat Minahasa dan berfikir keras mengenai "secara Islam", tapi akhirnya dia menyetujui maksud itu karena sudah lama Opo Sokemen mengaguminya dan juga putrinya ada menaruh hati.
Demikianlah, maka residen Pietermaat tidak membohongi kata katanya dahulu, segeralah dia dengan menunggang kudanya diikuti oleh ajudannya menuju Tonsea Lama untuk melakukan peminangan kepada Pangatua Adat Walak Tonsea Runtupalit Rumbayan, memperjodohkan pemuda Tumenggung Sis Pajang dan putri bungsu Opo Sokomen, Wurenga.
Dan sebagai oleh oleh untuk kedua calon pengantin itu residen Pietermaat menghadiahkan seperangkat pakaian kawin khas kraton Jokyakarta yang telah dipesan melalui residen Joyakarta Van Nes.
Sebelum pesta dilangsungkan, maka Runtupalit Rumbayan mengundang kaum krabatnya yang berada di Kema, Amurang.
Maka datanglah memenuhi undangannya yaitu Opo Tumbelaka bersama keluarganya dari Amurang termasuk dua putrinya.
Demikian juga yang hadir adalah Penatua adat Toulour ( touliang-Toulimabot ) diantaranya terdapat Opo' Tombokan beserta keluarganya dan putrinya bernama Ringkingan.
Maka pesta perkawinan itu dilaksanakan secara Islam, berlangsung dirayakan, dengan menurut adat istiadat Minahasa disatu pihak dan adat Jawa dipihak lain selama tujuh hari tujuh malam.
Perayaan dimeriahkan dengan tarian Maengket dan Masambo yang dibawakan oleh Tona'as Tona'as sebagai dalang dan diikuti oleh masyarakat sekitarnya dimana terdapat puluhan gadis gadis Minahasa yang cantik cantik, dan tarian tarian Jawa.
Adegan adegan itu yang telah dipertontonkan, telah membuat gadis gadis lainnya terpesona dan terjadilah perkawinan selanjutnya.
" Kyai Ghazali Mojo putra Kyai Mojo dengan putri gadis terbungsu Opo' Tombokan, pendiri Negri Tondano di Papal ( Uluna ),
hulu sungai Tondano bagian Barat ( Tondano Tua ).
" Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang dengan salah seorang putri Opo' Tumbelaka dari Amurang ( Minahasa Selatan ).
" Tumenggung Bratayudo dengan salah satu putri Opo' Tumbelaka juga.
" Ngiso (Isa) Pulukadang dengan putri dari Opo' Pakasi Warouw.
Dan masih beberapa lagi pemuda dari rombongan yang kawin dengan gadis gadis Minahasa.
Dengan demikaian maka nama nama kelurga ( marga/Fam ) seperti : Wagey, Maukar, Ranti, Ratulangi, Kawilarang, Kumaunang telah mengasimiliser dengan nama nama dari orang Jawa itu.
Didalam perkembangan selanjutnya menyusul nama nama fam, Malonda, Lengkong, Supit, Karinda, dan masih banyak lagi.
Masyarakat Kampung Jawa Tondano, mengikuti kebudayaan Minahasa dengan memakai nama Fam ( Marga ) dibelakang namanya, tidak seperti di Jawa (tidak memakai Marga).
XII. POPULASI PENDUDUK
KAMPUNG JAWA TONDANO.
Berdasarkan data data dan sensus penduduk maka populasi penduduk Kampung Jawa Tondano adalah sebagai berikut:
1830 - 60
1846 - 273
1854 - 315
1902 - 1300
1965 - 2015
1976 - 2120
2007 - diperkirakan saat ini 50.000 Orang dengan uraian:
5.000 orang Di Kampung Jawa Tondano.
20.000 orang tersebar dibeberapa daerah Minahasa seperti Manado,Pineleng,Sarongsong,Winetin,Doloduo,Tumpaan,Bitung.
25.000 orang diluar Minahasa, Gorontalo, Maluku, Jakarta, serta di daerah lain di Indonesia.
Dengan adanya data ini kalau diuruti sejak kedatangan pertama kali, dimana jumlahnya hanya 60 orang atau hanya sekitar 0,001% dari seluruh penduduk Minahasa pada waktu itu yang berjumlah 80.000 orang.
Saat ini peta Minahasa sudah berubah, dimana jumlah penduduk Kampung Jawa Tondano yang ada di Minahasa sudah berjumlah 25.000 orang dari total 304.298*) orang penduduk Kabupaten Minahasa ( Induk ) atau sekitar 8,2%.
*) Sumber Pemda Kabupaten Minahasa ( Induk ), hal 32
PENDUDUK KABUPATEN MINAHASA
Jumlah penduduk Kabupaten Minahasa sampai dengan bulan Juni tahun 2006 ,adalah 304.298 Jiwa.
kabupaten Minahasa memiliki masyarakat dengan dominasi etnis minahasa yang mendiami daerah pegunungan dan pesisir yang tersebar dalam 18 kecamatan.
Jumlah penduduk dan kepadatannya menurut kecamatan adalah sebagai berikut :
KECAMATAN Jumlah Kepadatan
TONDANO UTARA 10.064 374
TONDANO BARAT 18.588 547
TONDANO SELATAN 17.196 126
TONDANO TIMUR 13.903 381
LANGOWAN BARAT 18.873 364
LANGOWAN SELATAN 8.057 15
LANGOWAN TIMUR 17.773 130
KAKAS 22.177 184
TOMPASO 14.535 491
REMBOKEN 11.488 202
KAWANGKOAN 26.218 532
TOMBARIRI 25.512 180
SONDER 18.114 319
ERIS 12.843 320
LEMBEAN TIMUR 8.855 131
KOMBI 11.133 92
PINELENG 34.822 250
TOMBULU 14.147 164
JUMLAH 304.298 273
XIII. EXPANSI KAMPUNG JAWA TONDANO
Mengingat jumlah penduduk Kampung Jawa Tondano bertambah, sedangkan lahannya hanya itu itu saja, masih seperti dulu, maka masyarakat Kampung Jawa harus mencari alternatif untuk mencari tempat tinggal.
Dapat dijelaskan disini bahwa masyarakat Kampung Jawa Tondano sejak dulu sampai sekarang tidak pernah melakukan usaha usaha untuk memperluas lahan Kampungnya, oleh karena adanya SALING MENGHORMATI TETANGA TETANGGANYA.
Maka beberapa waktu kemudian dengan adanya hubungan yang sangat baik dengan masyarakat Minahasa sekitarnya dan juga dalam usaha perdagangan maka kampung Jawa kecil bermunculan antara lain:
1. Di desa Lotak dan diberi nama Pineleng.
2. Disebelah Utara Kampung Jawa, yang berdekatan dengan Tonsea Lama yaitu Tegal Rejo.
3. Di sebelah Timur Pegunungan Lembean dan diberi nama menurut bahasa daerah Tonsea "Winetin" artinya dipilih.
4. Disebelah Barat Daya pegunungan Masarang di Tomohon diberi nama "Sarongsong" artinya mata air.
5. Di Tuminting disebelah Utara Manado diberi nama Sumompo.
6. Yang terbesar adalah exodus ke Gorontalo yaitu di Kampung Reksonegoro dan Kampung Yosonegoro, dan walaupun mereka di Gorontalo bahasa mereka sehari hari adalah bahasa Tondano.
7. Di Amurang Minahasa Selatan yaitu di Tumpaan.
8. Di Tompaso Baru Minahasa Selatan yang berbatasan dengan Bolaang Mongondow (Bojonegoro), pada waktu program Kolonisasi- Watuseke (1924).
9. Di Dolodu'o - Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow.
10. Di Jailolo Halmehera - Maluku.
11. Di Bitung didesa Girian.
XIV. KEBUDAYAAN
a. SYUKURAN……..
Bersambung Bagian II……………..